[Resensi Buku] Sudut Mati

Judul Novel: Sudut Mati

Penulis: Tsugaeda

Penerbit: Bentang Pustaka

Jumlah halaman:

Tahun terbit: Sep 2015

Kita akui bahwa novel bergenre thriller di negeri ini sangatlah sedikit terbit tiap tahunnya. Terlebih yang bergenre thriller korporasi. Namun bukan berarti tidak ada, kita bisa menemukan novel bergenre tersebut pada novel-novel karya Tsugaeda dan Tere Liye. Yang murni “memelihara” genre thriller korporasi mungkin hanyalah Tsugaeda. Ya, dengan terbitnya dua novel bergenre sama, Tsugaeda sudah banyak dikenal dalam dunia literasi Indonesia. Terlebih dia telah memulai sebuah karya dengan mengetengahkan genre yang tidak biasa.

Beberapa bulan yang lalu saya pernah meresume novel pertamanya yang berjudul Rencana Besar. Secara cerita dan penceritaan, cukup menarik dan seru. Novel ini terus terang menjadi angin segar bagi variasi genre novel di Indonesia. Dan melalui novel keduanya ini, Tsugaeda mengetengahkan genre yang sama dengan intensitas penceritaan, ketegangan dan konflik yang terus meninggi. Sangat memukai dan telah mengambil porsi waktu secara terus-menerus untuk membacanya hingga akhir. Novel ini berjudul “Sudut Mati”

BLURB

Titan kembali dari Amerika Serikat setelah delapan tahun, tepat ketika Grup Prayogo milik ayahnya sedang krisis dan membutuhkan bantuannya. Selain kesulitan dalam urusan bisnis, ada ancaman dari kompetitor jahat, Ares Inco, yang memiliki keinginan menghancurkan keluarga Prayogo untuk selamanya.

Namun, Titan tak hanya menghadapi itu. Kakaknya, Titok, tak suka tersaingi olehnya di dalam Grup. Adiknya, Tiara, justru menikah dengan putra mahkota musuh. Dan, mungkin ia juga telah membawa kekasih yang dicintainya ke dalam bahaya.

Titan harus menghadapi itu semua. Sementara tanpa ia ketahui, seorang pembunuh dengan kode “Si Dokter” mengintai dan menunggu saat tepat untuk ikut campur ke dalam urusan mereka.

Titan Prayogo, putra ketiga dari Sigit Prayogo akhirnya mau pulang ke Indonesia. Delapan tahun sudah Titan merantau ke Amerika Serikat setelah kematian ibunya. Kematian yang memiliki sangkut paut dengan kakak keduanya, Teno.

——

Ya, ide besar novel ini adalah konflik korporasi. Konflik antarputera mahkota dua musuh korporasi bebuyutan. Yang satu sangat berambisi untuk bersegera menjadi pewaris takhta, yang satu lagi berambisi untuk membalas dendam pada pesaing bisnis ayahnya. Menarik dan memikat. Penulis menghadirkan jalinan kisah dengan banyak benang yang bertebaran di mana-mana, jika kita skip sedikit bagian saja yang tidak terbaca, maka jalinan benang yang dihadirkan penulis akan terlihat berantakan. Namun jika kita dengan sabar dan intens membaca novel ini tanpa sedikit bagian pun terlewatkan, maka akan timbul kesan bahwa penulis sangat lihai merangkai dan merajut demikian banyak premis dan rantai cerita, untuk kemudian disambung menjadi sebuah karya novel yang utuh.

Tokoh utama di novel ini adalah seorang pemuda bernama Titan Prayogo yang memutuskan pulang dari Amrik ke Indonesia karena mendapatkan kunjungan dari rekan bisnis ayahnya, Danang, yang sudah dianggapnya sebagai paman sendiri. Sebenarnya bukan karena adanya kedatangan Danang yang membuat Titan memutuskan pulang, tak lain adalah secarik kertas misterius yang hanya diisi oleh satu kalimat. Meski begitu, gaya tulisan dan isi tulisan dari secarik kertas itu telah cukup meyakinkan Titan untuk pulang.

Titan diminta pulang untuk mengurus korporasi milik ayahnya Sigit Prayogo. Bisnis yang dibangun oleh ayahnya itu telah berada di titik miris yang tinggal menunggu waktu saja untuk hancur. Situasi tersebut tidak cukup pelik karena ternyata, sebagai seorang usahawan, Sigit mencalonkan diri sebagai presiden RI. Belum lagi ditambah dengan serampangannya sang putra mahkota, Titok, yang sekaligus sebagai kakak tertua Titan. Sangat ambisius, nampu tidak mampu mengurus bisnis ayahnya dengan baik. Ditambah lagi Tiara, adik Titan yang malah menikah dengan putra mahkota musuh grup Ares Inco. Tentu ini membuat konflik semakin rumit dan menyusahkan.

Akhirnya Titan memutuskan pulang ke Indonesia bersama dengan kekasihnya Kath. Tidak butuh waktu lama untuk Titan mengidentifikasi permasalahan apa yang sedang menimpa korporasi ayahnya. Berbagai langkah disiapkannya untuk membuat stabil kondisi grup dan mengembalikan kejayaan perusahaan ayahnya. Namun kebangkitan bisnis Prayogo ini membuat tidak senang Ares Inco. Putra mahkota Ares Inco lah yang berupaya untuk membuat perusahaan milik Sigit Prayogo itu hancur kembali seperti krisis tahun 98.

Titan, meski sekilas memiliki upaya yang mulia untuk menyelamatkan korporasi ayahnya, namun langkah yang ditempuh ternyata tidak selalu bersih. Dari upaya kecil hingga yang paling ekstrem ditempuhnya demi menyelamatkan bisnis ayahnya. Akan tetapi ternyata tidak semua pihak mendukungnya, termasuk akhirnya Danang dan Titok yang jadi muak dengan manuver Titan tersebut. Namun ada yang lebih geram dengan langkah yang ditempuh oleh Titan, dia adalah putra mahkota Ares Inco, suami Tiara (yang-saya-lupa-siapa-namanya).

Cerita berlangsung cepat dan intens. Pembaca akan dihadapkan pada situasi yang dipaksa untuk terus menyelesaikan bagian demi bagian di novel ini. Meski begitu, anda tak perlu khawatir dengan berjejalannya premis-premis yang ada di novel ini. Tsugaeda sepertinya paham benar bahwa ia sedang menyiapkan sebuah novel yang bisa saja gagal jika benang-benang yang bertebaran tersebut tidak dirajut menjadi sebuah kain cerita yang utuh. Jangan khawatir, karena menurut penilaian saya penulis berhasil melakukan itu.

Apakah novel ini layaknya novel thriller lainnya yang menghadirkan baku hantam dan tembak menembak? Ya, tentu saja. Di porsi setengah akhir cerita, sangat banyak adegan itu dihadirkan. Dan menurut saya, ada beberapa premis yang sama antara novel ini dengan novel Negeri Para Bedebah. Apa saja? Saya akan bahas di bagian lain.

 

Lalu apakah Titan mampu mengembalikan kejayaan korporasi Grup Prayogo? Mampukah ia memberikan penjelasan yang bisa diterima oleh Danang, Tito dan Sigit? Mampukah Titan menghadapi gempuran dari Ares Inco? Lalu apakah hubungan ia dengan Si Dokter? Semuanya terjawab jika anda membaca novel ini (ya iyalah)

Mungkin resume ini tidak menjelaskan secara keseluruhan semua premis cerita yang ada di novel. Saking banyaknya, saya tidak angkat semuanya. Tapi saya pikir semuanya penting dan berperan signifikan dalam jalinan cerita yang dihadirkan oleh Tsugaeda.

Yang menarik lainnya dari novel ini adalah, ada lanjutan cerita atau bisa disebut spin off dari novel Tsugaeda sebelumnya, yaitu Rencana Besar. Selain itu di akhir cerita, Titan diperintahkan oleh Danang untuk menemui Makarim, yang tak lain adalah tokoh utama di novel Rencana Besar. Apakah bakal ada sequel dari novel Sudut Mati (sekaligus sekuel dari novel Rencana Besar juga)? Saya sih berharap banget.

Nah mengenai kesamaan antara sekuel Negeri Para Bedebah (NPB) dan Sudut Mati (SM) ini, saya menghimpunnya jadi beberapa poin

. dua-duanya sepertinya berkaca dua momen nasional. SM pada jatuh bangunnya Grup Bakrie, NPB pada bailout bank century

. ada tokoh yang mencalonkan diri sebagai presiden. Di SM Sigit Prayogo, di NPB ada JD

. tokoh utama di dua novel itu sama-sama dikisahkan muak terhadap tokoh yang ditolong. Di NPB, Thomas muak pada pamannya, di SM Titan muak pada ayahnya

. tokoh utama dua novel ini sama-sama pulang untuk membantu bisnis keluarga. Sama-sama sering berkeliling luar negeri, sama-sama ahli ekonomi dan bisnis

. ada tokoh sentral pendamping tokoh utama yang mendampingi ketika dalam pelarian/upaya balas dendam. Di NPB ada Maryam, di SM ada Kath.

. dst

 

Demikian resume saya terhadap novel ini. Maaf kalau bahasanya terkesan terburu-buru dan tidak runtut. Terima kasih

Iklan

[Resensi Buku] Merayakan Kehilangan (Kumpulan Prosa)

Judul Buku: Merayakan Kehilangan (Kumpulan Prosa)

Penulis: Brian Khrisna

Penerbit: Media Kita

Tahun terbit: 2016

Tebal: ii+222 halaman

Lagi kali ini saya meresume buku kumpulan sajak lagi (lebih tepatnya sajak berbentuk surat). Dari penulis baru, penerbit spesialisasi prosa-prosa liris. Mencoba menyuguhkan genre romantis yang senada dengan “Sang Budak Sajak” Wiranagara, namun kadar romantis yang dihadirkan oleh penulis ini lebih menyayat dan lebih “murni”.

Kali ini kita berbicara tentang kehilangan yang menjadi fase tersering dialami setiap orang. Berbicara kehilangan adalah berbicara mengenai hal yang terlewatkan, menuntut keikhlasan, tidak bersama lagi, menikmati rasa ditinggalkan, dan lainnya. Namun di sini penulis menghadirkan fonem-fonem lain dari sebuah momen kehilangan. Seperti apa jika kita mengalami hal terpenting di dalam keberjalanan hidup kita, sebentar lagi (atau bahkan sudah) akan menjauh atau pupus dalam fragmen hidup kita? Penulis mencoba menyuguhkan kepada kita bahwa sebenarnya ada banyak cerita yang bisa disampaikan ketika kita mengalami kehilangan. Dalam buku ini, penulis teramat manis menyusun konsep-konsep kata, yang akan membuat anda merasa tercenung, mencoba mengingat lagi bagaimana mengecap rasa itu, untuk kemudian menghembuskan nafas berat bahwa ya beginilah caranya merayakan kehilangan.

“Aku pernah dipaksa olehmu untuk melepaskan. Diperintah olehmu untuk melupakan. Memaksaku berhenti, ketika aku masih terlalu sayang. Mungkin bersamaku kau tidak bahagia. Mungkin dengan melepaskanku mengartikan kau telah menemukan bahagia”

Sebuah potongan dari sajak pembuka di atas sungguh menyentak. Di halaman awal, terlihat benar bahwa penulis ingin menghadirkan kesan yang bisa membekas dalam bagi para pembaca karyanya. Bagaimana penulis bercerita bahwa rasa yang demikian tinggi akan berakhir tidak karuan, karena ada sebuah sebab yang menjatuhkan rasa tersebut ke titik terendah. Lirih dan membekas.

Begitulah anda akan dihadirkan dengan kesan-kesan bagaimana penulis menikmati semua kesedihan itu sendirian. Terkadang menerima, terkadang mempertanyakan. Menurut saya, keduanya sangat indah dihadirkan.

Di bagian lain anda akan merasakan apa yang menjadi nyawa dalam sajak-sajak di buku ini. Penulis mencoba menggambarkan apa yang dirasakannya ke dalam sebuah analogi, yang bagi saya, sungguh telak dirasakan.

“Aku ingin merayakan tahun baru dengan menyalakan kembang api. Dan kenangan tentang kita akan kurekatkan erat di dekat sumbu penyulutnya. Biar ia melesat. Jauh. Tak terjangkau. Lalu meledak keras di angkasa. Hancur. Berkeping-keping”

Ada beberapa kata yang sering diulang hampir di semua sajak. Namun saya pikir itu tidaklah mengapa karena sangat relate dengan benang merah yang ada di kumpulan sajak ini. Meski tidak menguatkan “rasa kehilangan” namun pengulangan kata-kata tersebut juga tidak lantas membuat buku ini jadi kehilangan keindahannya.

[Resensi Buku] Ubur-Ubur Lembur

Judul Buku: Ubur-ubur Lembur (Personal Literature)

Penulis: Raditya Dika

Tebal: 240 hlm

Penerbit: GagasMedia

Tahun Terbit: 2018

Harga: Rp 66.000,-

“Tumbuh dewasa ya begitu, Kathu. Tempat-tempat lama akan berasa lebih kecil dibanding dulu. Tapi tempat itu nggak berubah. Kita yang tumbuh besar.” (hal. 91)

Saya pun mengalami hal yang sama terkait hal ini. Kebetulan ketika dua tahun saya berkunjung ke tempat di mana saya menempuh pendidikan SD. Kebetulan SD dan SMP saya berbeda kota. Lumayan jauh. Berpindah karena mengikuti penempatan kerja orang tua. Waktu itu juga saya merasa, ‘kok jalan di depan SD ini jadi makin kecil’. Padahal dulu selepas pulang sekolah, sering sekali jalanan SD ini digunakan banyak anak untuk main sepeda. ‘Ah, dari dulu juga kayak gini, Der’ komentar teman SD saya yang dari dulu memang tak pernah pindah rumahnya dari sebelah SD. Saat membaca buku ini, saya sadar, bahwa sebenarnya saat kita menapak kembali tempat yang kaya akan kenangan semasa kecil, akan terasa kecil tempat tersebut. Meski sebenarnya bukan tempat itu yang menjadi kecil, kitalah yang tumbuh besar. Sama halnya dengan jalan SD yang sudah tidak saya lalui selama hampir 15 tahun.

Buku ini dengan sukses menghadirkan kepada anda apa yang menjadi harta berharga manusia. Kenangan. Ya, dengan kenangan itu kita lalui berbagai hal di ketiadaan. Mungkin dulu ada, kini tiada. Tapi toh tetap kita bisa “berjumpa” dengan hal-hal yang kini telah tiada tersebut.

Raditya Dika memang menekankan arti penting kenangan. Makin matang dalam berkomedi pakai hati, esai-esai yang dihadirkannya kental akan perenungan namun juga tetap jenaka khasnya. Semua tulisan yang ada di buku ini benar-benar menghadirkan kenangan di masa lalu, untuk kemudian dia suguhkan di momen saat ini. Melalui caranya sendiri, saya pikir anda tak perlu meragukan bagaimana kekhasan tulisannya.

Buku ini dimulai dengan tulisan bagaimana cewek dan cowok dalam mengekspresikan patah hati, dan bagaimana respon teman-temannya dalam upaya menghibur dan menjauhkan dari kesedihan. Beda cara antar keduanya inilah yang diangkat Radit dalam tulisan yang berjudul “Dua Orang yang Berubah” dan “Pada Sebuah Kebun Binanatang”. Tulisan ini menceritakan bagaimana Radit pernah diminta oleh seorang cowok, yang juga adalah temannya, yang sedang ribut dengan pacarnya. Radit diminta untuk membujuk sang cewek agar mau memaafkan sang cowok, dan balik lagi kepadanya. Upaya Radit untuk mendamaikan keduanya sempai menimbulkan kekacauan. Tapi tanpa diduga, toh akhirnya mereka balikan. Dan di akhir, Radit mengungkapkan lagi-lagi perbedaan cowok dan cewek dalam menghadapi putus hubungan. Dalam dan menyimpulkan senyum, meski hanya seulas.

Di tulisan “Mata Ketemu Mata” dan “Raja di Sekolah”, Radit menceritakan bagaimana pengalaman yang kurang mengenakan ketika bertemu dengan orang yang tidak ingin ditemui. Ada perasaan canggung dan khawatir. Meski ending kedua tulisan ini berbeda, namun tetap saya tertawa membaca jalinan ceritanya. Bagaimana “culunnya” Radit kala itu ternyata menghadirkan dua momen yang berbeda.

Sementara di tulisan “Rumah yang Terlewat” dan “Di Bawah Mendung yang Sama” Radit menceritakan sosok-sosok orang yang sangat spesial di hatinya. Sudah bagaikan saudara meski jarak mereka dipisahkan oleh samudera. Di “Rumah yang Terlewat” diceritakan bahwa Radit dirindukan kehadirannya oleh Nenek Angkatnya ketika dia pernah bermukim di Jepang saat belum memasuki usia sekolah. Kala itu mengikuti S2 ibunya. Sementara di tulisan satunya lagi, Radit menceritakan sahabat India-nya semasa usia SD (gak satu SD sih). Tokoh yang diceritakan bernama Kathu ini memang menghadirkan banyak kenangan bagi Radit. Kemudian mereka bertemu lagi saat Radit seperti sekarang. Tentu banyak kelucuan yang terjadi di antara keduanya.

Akan sangat menarik jika anda membaca tulisan lain yang berjudul “Percakapan dengan Seorang Artis” dan “Percakapan dengan Seorang Anak yang Ingin Jadi Artis”. Dua-duanya menghadirkan kaya akan perspektif kepada kita. Jika anda ingin berada di posisi orang lain, dan bagaimana rasanya, mungkin tulisan ini sangat tepat bagi anda. Tak ada yang bisa membuat kita sejenak berdiam dan ingin tahu, bagaimana rasanya menjadi sesosok manusia yang begitu dipuja oleh banyak orang.

Tulisan pamungkas di buku ini ada di bagian akhir. Seperti biasa, selalu dua tulisan terakhir. Tulisan yang berjudul “Ubur-ubur Lembur” dan “Penyesalan Itu Nikmat” adalah tulisan yang menceritakan perjalanan karir Radit yang awalnya disangsikan banyak orang. Prinsip yang dipegang olehnya adalah bagaimana memaksimalkan dan melakoni apa yang disukai, sehingga menjadi sesuai yang mempunyai daya ledak manfaat yang besar. Radit beranggapan bahwa puncak karir tidak selalu vertikal. Ia tetap horisontal, sehingga bisa banyak menghasilkan multimanfaat. Maka lahirlah ia menjadi seorang komtung, sutradara, aktor, bintang iklan, di samping juga sebagai penulis. Tulisan ini juga sangat mengilhami saya.

Dengan benang merah itu, saya simpulkan bahwa cara Radit berkomedi sudah sangat dewasa. Selalu menyertakan perenungan mendalam dari hal-hal sepele yang sebenarnya bisa ditertawakan bersama-sama. Keren!

 

THE QUIRE FROM UNDERPRESSURE

Apa yang membuat orang berpikir? Mampukah setiap apa yang dikehendaki itu mudah terterima di dalam pikiran orang lain? Kalau aku tak bisa menanamkan pengaruhku pada orang lain maka dengan pertanyaanlah aku mampu menelisik lorong hati mereka. Aku hanya hendak mengutarakan apa yang menurutku baik, apa yang menurutku berbeda, dan apa yang menurutku memiliki semangat zaman. Sayang memang begitu sulit untuk mendapatkan keberterimaan dalam hati mereka. Tidakkah manusia berpikir bahwa kekalahan yang paling parah itu adalah mengikuti apa yang dikatakan yang menang. Selama ini aku hanya ingin membuat sesuatu yang berbeda, sesuatu yang memiliki semangat baru, sesuatu yang membuat kita berpikir akan arti sebuah kesia-siaan, dan aku yakin walaupun kesia-siaan itu adalah sesuatu yang melenakan, aku takkan membiarkan itu terus tumbuh subur dalam kedangkalan berpikir manusia zaman ini. Tidak bosankah kita dengan alur zaman yang seperti itu saja? Mengapa kita cenderung terlalu mendramatisasi keadaan. Aku tak mengerti. Namun sebuah konklusi yang terbersit dalam naluriku bahwa zaman ini akan sulit berubah, zaman ini akan lama sekali merindukan sebuah peradaban yang membuat dunia sedikit melebarkan senyumnya. Aku baru menyadari bahwa kekuatan enjoy with this situation telah menenggelamkan kita jauh dari sebuah mahakarya sebagai manusia. Sebuah mahakarya kemanusiaan yang akan menyokong peradaban dunia sesaat lagi.

Namun kebanyakan manusia malah tidur dalam kenyamanan berpikir mereka ketika kereta peradaban menghampiri saat subuh hari. Dapat diterka paginya mereka terperanjat dan telah tertinggal oleh kaum-kaum yang terlebih dulu mengukir sejarah, telah lebih dulu mengisi bahan bakar kereta peradaban. Sesaat kemudian mereka akan berada di ujung zaman untuk menunggu kereta selanjutnya. Kadang terpikir, mengapa ketika ada suara sumbang malah diikuti gema yang demikian tinggi? Padahal itu sebuah gema yang hanya mendorong kata menjadi sia-sia. Tapi sering kemudian seruan mulia hanya dibiarkan berlalu saja, hening dalam keramaian semangat, tanpa sedikitpun dibisikkan dalam hati masing-masing. Lalu akan tercatatlah dalam sejarah bahwa zaman dulu ketika manusia terbuai oleh yang namanya globalisasi, alam raya menangis dalam keheningan yang membuat dunia diam.

[Resensi Buku] Assalaamualaikum.. Islam itu Agama Perlawanan

Judul                     : Assalaamualaikum.. Islam itu Agama Perlawanan

Pengarang          : Eko Prasetyo

Penerbit              : Resist Book

Tebal                     : x+228 halaman

Tahun terbit       : 2005

“_Katanya bangsa ini dikenal sebagai bangsa yang ummat Islamnya paling besar. Sebagian isi khutbah selalu memberi pengumuman semacam itu. Dan kita memang tidak bisa terlalu bangga. Julukan yang terhormat itu tak sebanding dengan reputasi buruk yang menimpa: korupsi telah menimpa departemen yang harusnya diisi orang-orang saleh. Pendidikan yang mengatas-namakan agama ternyata juga tega untuk memeras murid dengan biaya mahal. Keadaan yang sama menimpa rumah sakit yang membawa-bawa nama Islam. Para pekerja perempuan yang berangkat ke negeri Islam juga mendapat siksa yang pedih. UU Terorisme juga banyak salah tangkap. Pertanyaannya: dimana gerangan aksi ‘nyata dan konkrit’ gerakan Islam? Buku ini, dilampiri dengan illustrasi yang jenaka dan modul praktis pelatihan, ingin kembali menggugat kemapanan dari gerakan Islam. Sebuah kemapanan yang dikuatirkan akan meracuni ummat dan menjauhkan Islam dari misi sebenarnya._”

Buku ini mampu menghadirkan kejutan saat dakwah Islam sedang demikian progresif satu dekade ke belakang. Meski terbit 14 tahun lalu, isinya masih sangat relevan dengan kondisi umat saat ini. Saya memiliki buku ini sudah cukup lama, dan cukup tertarik dengan kartun di dalamnya yang sangat menggelitik. Kritis dan menyentil. Penulisnya yang kadang disebut sosialis ini dengan begitu tajam menyampaikan pemikiran dan pesan pedas dalam bukunya. Banyak yang mungkin tersindir, karena secara jelas penulis merekonstruksi sosok, statementnya, ataupun moment saat si sosok tersebut melontarkan statementnya (walaupun disamarkan) . Memang sosok dan peristiwa yang dipaparkan adalah apa yang terjadi di awal milenium baru ini, tapi tak dapat kita pungkiri bahwa, setidaknya 12 tahun setelah buku ini terbit, rekonstruksi fenomena itu masih tetap saja ada. Saya cukup amaze dengan buku kecil bersampul hijau ini, yang kalimat-kalimatnya terasa militan dan agak “kiri”, yang menohok muslim konsevatif sembari juga menghujat muslim liberal. Buku ini berjudul Assalamualaikum: Islam itu Agama Perlawanan.

Buku ini sebenernya bagus untuk para aktivis muda Islam, supaya ketika berbicara dakwah, orientasinya tidak sebatas ideologi saja, tapi juga Islam sebagai rahmatan lil alamiin. Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Maksudnya kita juga harus mampu memberikan solusi menurut Islam bagaimana menyelesaikan permasalahan fundamental umat seperti kesejahteraan, pendidikan dan kesehatan. Mengapa perlu jadi prioritas? Karena umat Islam di negeri ini sangat membutuhkan hal tersebut. Dengan tidak mengesampingkan urgensi dakwah ideologi dan pokok pemikiran, sebaiknya para alim ulama lebih giat untuk menawarkan hal-hal semacam ini ke tengah-tengah masyarakat. Terutama yang punya kuasa.

Penulis merupakan sosok langka dalam dunia pergerakan. Apalagi dalam pergerakan Islam. Eko Prasetyo merupakan orang yang berpikir bebas dan terbuka namun mengutuk sepenuhnya kapitalisme dan liberalisme agama. Tulisannya dengan lantang menentang praktik-praktik konservatif keagamaan yang memperkaya pemuka agama tertentu, tapi juga mengkritik intelektual-liberal yang pemikirannya minim solusi untuk rakyat kecil. Mengaku pengurus masjid, tapi punya juga hubungan dengan Robert W. Hefner—menuliskan epilog di akhir buku ini—dan mengembangkan “Islam Kiri”.

Seperti yang saya ungkap di awal tulisan ini, isi dari buku ini penuh dengan sindiran. Sangat mungkin kita sendiri yang akan merasa tersindir. Rasanya semua kronik umat Islam yang muncul ke permukaan tidak luput dari bahasan penulis. Ada ustadz tarif, yaitu ustadz yang biasa menetapkan tarif ketika berceramah. Ada sekolah Islam tapi ternyata biayanya tidak islami (istilah apa ini? Ehehehe… maksudnya penetapan biayanya tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam yang umum, alias mehong). Penulis dengan cerkas mengelaborasi kontrarealita lembaga-lembaga pendidikan islam yang katanya sekarang sudah menjadi lembaga-lemabaga pemeras harta. Hampir semua sekolah berlabel islam berbiaya tidak masuk akal. Memang ada harga ada rupa. Tapi jelas kondisi seperti ini hanya berpihak ke kaum berduit saja. Sementara yang miskin, cukup gigit jari dan masuk sekolah murah yang kualitasnya amburadul.

Ada juga sindiran terhadap ustadz yang menghimbau senantiasa untuk sabar, padahal perut kebanyakan umat Islam tidak bisa lepas dari yang namanya kelaparan (fenomena ini sangat kentara sekitar 10 tahun lalu, anda yang mengikutinya, pasti akan langsung paham siapa ustadz yang dimaksud). Dan masih banyak lagi sindiran pedas yang meluncur dari buku ini. Secara umum penulis memang mengacak-acak kecenderungan sebagian kalangan, tidak pada keyakinannya. Kental sekali penulis menyingung keberagamaan umat Islam saat ini yang menurutnya sering tak habis pikir. Komersialisasi agama sangat mudah ditemui di mana-mana. Sayangnya, yang namanya komersialisasi memang tak berpihak pada kaum kecil. Kaum kecil yang kebanyakannya juga beragama Islam.

Menariknya meski sindiran dan kritikan tajam yang diungkap, tentu buku ini tidak lepas dari yang namanya pencerahan dan solusi. Pencerahannya pun sangat sederhana dan bisa jadi luput dari pandangan umat Islam itu sendiri. Sudah saatnya kita melawan, karena Islam adalah agama perlawanan. Perlawanan terhadap kesewenangwenangan, perlawanan terhadap liberalisme dan imperialisme kontemporer, perlawanan terhadap segala bentuk penderitaan umatnya. Bisa dibilang buku ini adalah reminder keras bagi para aktivis Islam sekarang ini. Sayangnya, fokus sebagian besar dari mereka (aktivis) sangat jauh ke arah ini. Maka tidak heran mengapa sebenarnya masyarakat Indonesia yang penduduknya mayoritas Islam kini mulai jauh dari nilai-nilai keislaman. Lha, para cendikiawannya saja lebih tertarik dengan hal-hal ideologis utopis ketimbang memikirkan bagaimana secara bersama-sama meningkatkan kesejahteraan umat.

Buku ini memang bukanlah buku akademik yang berisikan teori-teori berat, tapi yang jelas buku ini memaparkan realitas kehidupan umat islam yang paradoks secara gamblang. Biasanya setelah membaca buku ini orang jadi agak sedikit “panas” atau malah tersenyum agak tersentil. Apalagi bagi pihak yang merasa bagian dari sasaran kritik penulis.

Islam adalah agama rahmat bagi sekalian alam. Penting bagi kita untuk benar-benar memahami hal ini agar secara bersama-sama, kita benar-benar merasakan manfaatnya. Karena semuanya telah diatur secara lengkap dalam dien ini. Dari hubungan kita dengan Sang Pencipta, dan hubungan kita antarsesama.

Saya rasa buku ini cukup menarik. Cukup dan masih relevan saat ini. Hanya mungkin ada yang kurang dari buku ini. Belum adanya tinjauan futuris bagaimana apakah fenomena yang diungkap di buku ini akan masih ada, atau terus berkembang di masa yang akan datang (setidaknya di tahun-tahun sekarang). Memang saya akui fenomena yang diungkap buku ini masih ada, namun jika tinjauan ke depan terkait fenomena umat islam dengan isu-isu dan tuduhannya mampu dihadirkan, bisa jadi buku ini akan menjawab fenomena sekarang ini dengan tajuk: islam radikal, anti-kebinekaan, anti pancasila, nkri harga mati. Jujur secara pribadi saya sangat berharap Eko Prasetyo membuat jilid dua dari buku ini. Isinya? Ya terkait dengan fenomena isu dan tuduhan yang disematkan pada umat islam Indonesia. Jika tidak dalam bentuk buku, paling tidak dalam bentuk tulisan kritis. Saya benar-benar menunggu hal itu.

Allice

Allice sangat tidak suka bila suaminya sering pulang terlalu malam. Selain itu Dia juga kesal karena di mantel kerja suaminya selalu tercium bau rokok yang pekat bercampur dengan wangi parfum. Meski begitu, untungnya ia tak pernah mencium bau alkohol dari mulut suaminya sepulang kerja. Tentu hal ini berimbas pada dirinya yang jadi kurang tidur, gampang curiga dan emosi karena harus menunggu suaminya hingga larut malam. Lambat laun curiga itu semakin memuncak dalam dirinya.

Sementara David berpikir bahwa sebagai suami dia harus bisa memenuhi kebutuhan keluarga baru mereka. Keadaan semakin sulit yang membuat dia harus pulang malam adalah karena harus berbusa-busa presentasi kepada orang yang menjadi klien di project yang ia pimpin. Lelah dan kusut pasti setelahnya. Ia sadar ini akan menimbulkan kecurigaan istrinya. Sambil bergulat dengan penat, ia coba jelaskan ke istrinya. Tapi ternyata meyakinkan klien jauh lebih mudah dari memperoleh kata percaya dari istrinya.

Hingga pada suatu sore, David sudah sangat lelah, tapi ia tetap menyimpan kerinduan untuk pulang bertemu istri tercintanya. Melangkahlah ia menuju rumah. Ketika pintu rumah dibuka, ia mendapati istrinya dan seorang pria dewasa sedang berpelukan di atas sofa. Mereka terkejut melihat kedatangan David. Emosi David memuncak. Amarahnya menderu kencang di dadanya. Tangannya mengepal. Matanya memerah. Meski begitu ia tetap mematung. Allice terkejut diam seraya cemas. Tercium jelas aroma keterkejutan dan kemarahan yang mengepul di ruangan itu, meski sebenarnya hening masih merajai mereka. Pria dewasa itu tersadar dari rasa terkejutnya. Dilepaskannya pelukan Allice. Ia akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa dirinya tak boleh menjadi yang pertama dalam menerima amarah suami Allice. Sejurus kepal melayang ke kepala David. Tapi dengan gesit David menghindar dari pukulan pria dewasa itu. Itulah gerakan pertama darinya semenjak ia mematung menahan amarahnya.

Pria dewasa itu memang memukul angin. Tapi tanpa diduga dia terpelanting dan kepalanya terantuk sudut meja. Darah mengalir kemudian, merembesi karpet di ruang itu. Pria itu tak sadarkan diri. “Darren,,!!!” pekik cemas terdengar dari mulut Allice. Kemudian ia beringsut mendekap pria itu sambil melelehkan air dari matanya. Melihat momen itu David semakin kecewa, matanya kian memerah. Dihantamkannya pot bunga ke kepala Allice. Sejenak nafas David tersengal. Merah itu semakin menggenang dan sunyi kian terasa menusuk. #flashfic

Semangkuk Zuppa Soup

Kalau hendak memutar ingatan tentangnya, momennya mirip seperti saat ini. Dulu saat sama-sama mengantri hidangan di pesta pernikahan teman kampus, Presiden Mahasiswa, bernama Angga.

“Eh, sorry… Yah… bajunya jadi kotor ya,” ia sedikit panik.

“Gak pa-pa,” pelan ku lap kemeja dengan tisu. “Mba ambil duluan aja,”

“Hoo iya terima kasih,”

Senyum pertama yang membuat detik seakan tak berdetak. Kemudian…

‘datang.sendiri.not.excessive.looking.chit-chat.needed.’

“Boleh duduk sini?”

“Oh, sure”

Lalu tukar-nama-tukar-cerita mengalir deras.

By the time antrian tiket bioskop kami bertemu. Dia kehabisan tiket. Ada dua tiket di tanganku. Satunya milik teman yang batal menonton, namun tiket kadung terbeli.

“Saya ada satu nih, Mba, kalau mau,”

“Eh, Dani, yang di nikahan Angga Presma?”

“Iya, yang kemeja batiknya jadi luntur setelah itu”

“Hahaha… sorry dong,”

‘dan senyumnya lagi’

“Jadi mau gak?”

“Boleh,”

“Sebelah saya tapi,”

“Gak di pojok ujung,kan?”

Simultan aku gelengkan kepala sambil tersenyum.

Makin sering kami bertemu dalam kebetulan. Makin cepat juga tumbuh rasa itu. Hingga saat aku ingin lebih serius. Berencana dan berupaya.

Sampai waktu membawaku dan dia pada saat ini,

“Selamat, ya, moga langgeng,”

Dia tersenyum.

Senyuman yang sama indahnya saat aku pertama kali melihatnya di tragedi antrian Zuppa Soup kala  itu.

“Zuppa Soup-nya di deket pintu masuk, ya,”

Aku tersenyum.

“Sudah tadi,”

 

#flashfiction

[Resensi Buku] Koala Kumal

Judul buku: Koala Kumal
Pengarang: Raditya Dika
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: 2015
Tebal: x+250 hal

Kawan, mari ku beri tahu sebuah hal, yang karena ini persoalan manusia menjadi rumit. Ia lebih rumit dari kerumitan itu sendiri. Susah dipahami. Namun jua cukup banyak orang yang menikmatinya. Hal itu adalah cinta.

Ahahaha maaf pembuka resume bukunya jadi terkesan lebay. Buku yang saya resensi dan resume ini adalah buku yang hingga tulisan ini dibuat masih menjadi top 10 best seller book di Gramedia. Terakhir kali lihat sih masih di posisi pertama. Buku ini berjudul Koala Kumal. Karya dari seorang anak muda maruk-talent (penulis, sutradara, standup comedian, aktor, dan direktur penerbit buku), Raditya Dika. Sedikit cerita mengapa saya membeli buku ini, bahwa awalnya saya memang tidak terlalu tertarik dengan tulisan komedi ‘brutal’. Brutal dalam artian komedi yang terlalu berlebihan. Bisa dibilang Dika ini pelopor dari menjamurnya buku personal essay yang memakai Radit’s style atau style brutal tadi. Tapi saat Dika menyatakan bahwa bukunya kini mulai menawarkan hal lain dari yang biasanya, saya mulai tertarik. Dia memakai istilah ‘komedi pakai hati’.

Maka sebenarnya memang terlihat jelas perbedaan buku-bukunya dari yang kini dengan yang dulu. Terlihat lebih matang dan ‘rapi’. Tulisannya runtut, dan tidak sebrutal buku-buku sebelumnya. Beberapa reviewer buku Dika menyatakan bahwa perubahan gaya menulis (tidak pada perbahan genre dan style humor) mulai terasa di buku kelimanya. Buku yang berjudul Marmut Merah Jambu. Tapi meski tulisannya kini lebih tertata, unsur komedinya tetap terasa. Ditambah juga dengan adanya pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah-kisah yang diceritakannya. Itulah mungkin mengapa istilah komedi pake hati ini muncul. Komedi yang mengajak kita untuk berpikir dan mengambil hikmah dari apa yang kita tertawakan atau kita amati. Seperti buku Dika sebelumnya, bukunya yang ketujuh ini juga mengambil judul dari nama binatang. Koala. Judul Koala Kumal terinspirasi setelah Dika melihat foto dari sebuah portal berita online luar negeri. Foto tersebut memperlihatkan seekor koala (yang kumal) terlihat bersedih dan bingung melihat habibat yang pernah dia tinggalkan menjadi berubah. Pohon tempat tinggalnya dahulu telah ditebangi dan telah rata dengan tanah. Koala ini gamang kebingungan kenapa tempat tinggalnya tidak seperti dulu. Itulah yang menjadi benang merah dalam kebanyakan cerita yang ada di buku ini. Kondisi di mana kita kembali ke hal-hal yang dulu pernah sangat dekat dengan kita, akan tetapi kini hal-hal tersebut telah berubah menjadi hal yang asing bagi kita.

Secara umum, buku yang bergenre personal essay ini terdiri dari 12 kisah. Semuanya adalah true story penulisnya. Katanya sih gitu. Walaupun sebenarnya saya sempat merasa bahwa di beberapa bagian, bisa saja Dika mengisahkan dengan cara terlalu berlebihan.

Dalam cerita yang berjudul ‘Ada Jangwe di Kepalaku’, Dika membahas mengenai persahabatannya di masa kecil. Bagi yang belum tahu, Jangwe adalah sejenis petasan. Mungkin petasan mercon. Di cerita ini dikisahkan bahwa zaman kelas 5 SD Dika awalnya tidak punya teman. Keseharian sepulang sekolah dan les dia isi dengan main PS. Sampai pada suatu ketika dia diajak oleh ayahnya bermain layangan. Ketika mengejar layangan putus, Dika bertemu dengan sang pemilik layangan yang diputus talinya oleh layangan yang dimainkan oleh Ayah Dika. Tak mau berurusan panjang, Dika memberikan layangan yang berhasil dia rebut kembali ke pemiliknya. Dan sejak saat itu mereka berteman.

Dika dan dua temannya dari kejadian layangan putus itu, Bahri dan Dodo, menjadi akrab. Sering maen bareng dan saling berkunjung ke rumah masing-masing. Sampai pada suatu ketika sebuah ketidaksepakatan memutus persahabatan. Ketidaksepakatan itu adalah cara pandang mereka pada petasan dan persahabatan. Ya, cerita ini adalah sebuah cerita patah hati tentang persahabatan.

Di cerita ‘Ingatlah Ini Sebelum Bikin Film’, Dika bercerita mengenai susah dan rumitnya dia mengkonversi cerita-cerita lucu yang ada di bukunya menjadi karya film. Hal ini dia temui ketika akan membuat film Cinta Brontosaurus. Dalam perjalanannya Dika mencoba untuk mencari skenario adegan lucu yang ia inspirasikan dari kehidupan sehari-harinya. Kehidupan dia dan keluarganya. Sampai pada suatu titik ayah dan ibunya protes dengan penggambaran diri mereka di film. Protes dengan cara yang menarik saya kira, dan sangat di luar dugaan. Dan tentu saja ada kelucuan di dalamnya.

Cerita ketiga yang berjudul Balada Lelaki Tomboi adalah cerita yang mengisahkan bagaimana Dika jatuh cinta dengan cewek tomboi. Cewek yang jago main tombak. Dika bersepakat pada sebuah konsepsi bahwa orang yang sedang jatuh cinta akan melakukan apapun agar terlihat menarik dan cocok dengan orang yang ia jatuhcintai. Ya, Dika memang melakukan itu. Bagaimana payahnya dia lari keliling senayan bersama dengan cewek itu. Fitnes agar badannya terlihat lebih berbentuk. Dan upaya lainnya untuk bisa match dengan cewek tomboi tersebut. Tapi ternyata (menurutnya) cinta juga bisa kadaluarsa. Dia dan cewek tomboi ini putus karena konsep bahwa ada orang lain yang lebih baru menggantikan dia yang lebih lama. Ternyata Dika mengalami kondisi di mana hubungan berubah menjadi tidak baik. Perasaan cinta cewek tomboi itu telah hilang. Dan diisi dengan orang yang lebih baru. Semua apa yang telah ia lakukan agar terlihat bisa mengimbangi cewek tomboi itu telah berubah menjadi sia-sia.

Di cerita keempat sebenarnya lebih tepat disebut tips atau panduan. Tapi terkesan berlebihan juga sih panduan yang disampaikan. Cerita nomor empat ini lebih mengungkapkan bagaimana cara cowok menghadapi penolakan cewek. Lengkap dengan tindakan dan kata-kata yang perlu diucapkan. But don’t try these ways at the moment. Saya sendiri gak tega mengungkapkan tips tersebut di resume ini. Ehehehe

Cerita kelima mengisahkan bagaimana Dika mengatasi kesendiriannya. Semenjak menjadi sosok terkenal, ia mulai menyewa rumah dengan tujuan agar memudahkan aktivitasnya. Cara yang dia ambil untuk mengatasi masalah tersebut ternyata bukan dengan mencari pasangan. Tapi adalah dengan mencari binantang peliharaan. Cerita ini berjudul ‘Kucing Story’, mengisahkan perjalanan Dika dalam mencari kucing untuk dipelihara di rumah barunya. Di cerita ini Dika juga mengisahkan bagaimana unik dan ajaibnya tingkah laku kucing peliharaannya itu.

Cerita lucu juga dikisahkan pada cerita yang berjudul LB. Bagaimana bingung dan salah tingkahnya Dika ketika menghadapi teman baru yang ternyata ladyboy. Ia tak bisa berpikir jernih karena terhalang rasa frustasinya untuk menemukan cewek yang bisa dijadikan pasangannya. Kemudian di cerita yang berjudul Perempuan Tanpa Nama, Dika mengisahkan mengenai momen-momen di mana dia bertemu dengan cewek yang menarik perhatiannya menjadi rasa suka. Sayangnya hingga buku ini diterbitkan, Dika tidak tahu nama perempuan-perempuan itu. Masalah utama adalah ketidakberaniannya.

Di cerita yang berjudul Menciptakan Miko kita akan tau bagaimana resahnya Dika terhadap tontonan televisi Indonesia sekarang ini. Di cerita ini dia mengungkapkan bagaimana susahnya pertama kali menjadi sutradara. Dika juga mengisahkan bagaimana terpilihnya sosok pembantu bernama Mas Ancha yang ternyata adalah asisten pribadinya. Kocak dan lumayan berbobot. Ada idealisme Dika yang diungkap di cerita ini. Sampai saat ini memang Documentary Short Movie berjudul Malam Minggu Miko sudah tidak diproduksi lagi. Dika memilih untuk menyimpan terlebih dahulu Miko sampai pada suatu waktu bisa dimunculkan lagi.

Berikutnya cerita yang berjudul Lebih Seram Dari Jurit Malam adalah cerita yang mengisahkan kesialan Dika sebagai senior. Ingin terlihat lebih berwibawa di hadapan juniornya, malah Dika mengalami kejadian apes yang menurunkan wibawanya di mata junior. Kejadian apes ini ia alami bersama temannya yang sangat berambisi untuk balas dendam atas perlakuan perpeloncoan ekskul saat ia masih menjadi junior. Ada hal lain yang diungkap di cerita ini, hal tersebut adalah dengan tanpa sadar Dika telah membuat orang lain patah hati. Orang lain itu adalah juniornya di ekskul yang dia ikuti.

Buku ini ditutup dengan cerita berjudul Koala Kumal. Di chapter penutup ini Dika lebih menjelaskan mengenai benang merah buku ini. Seperti yang di awal saya jelaskan di resume ini, judul chapter ini dijadikan judul buku. Dika mengungkapkan bahwa benang merah dari semua cerita yang ada di buku ketujuhnya ini adalah mengenai patah hati dan hal-hal yang berkaitan dengan itu. Ia juga bercerita tentang bagaimana ia bertemu dengan manta-mantannya dan meminta izin mereka untuk menuliskan kisah cinta gagal-nya bersama Dika. Tentunya dengan nama yang disamarkan. Ada bagian menarik yang bisa menjadi quote penting di kisah penutup ini. Ibu Dika menyampaikan sebuah istilah untuk orang yang sudah pernah patah hati. Dewasa. Ya, dewasa adalah istilah itu.

Ada dua kisah yang sangat manarik perhatian saya di buku ini. Kisah pertama adalah kisah yang berjudul Aku Ketemu Orang Lain. Kisah ini bercerita mengenai long distance relationship (LDR). Bagaimana dengan beratnya Dika menjalani LDR pada saat dia berkuliah di luar negeri (yang pernah nonton filmnya Kambingjantan pasti tahu). Cerita ini memiliki kesimpulan yang kadang menyesakkan adalah, manusia boleh berencana, manusia boleh punya keinginan, tapi rencana Tuhan bisa saja lain. Di antara kita mungkin ada yang pernah tersandera sebuah komitmen dan ternyata kita sangat menikmatinya. Saling menguatkan dan mencoba percaya, mereka-reka rencana, agar jalan yang akan dilewati menuju waktu suci bisa demikian mulus. Namun seiring waktu berjalan, harmonisasi itu berubah haluan. Awalnya bisa kita kendalikan, namun lambat laun untuk memahami perubahan itu saja kadang kita tak sanggup. Maka tak heran apabila sebagian dari kita bersetuju bahwa ungkapan ‘ternyata masih ada zaman siti nurbaya’ dan ‘ini salahku tak bisa menjaga yang kita punya’ akan menjadi demikian biasa. Memang pada akhirnya Dika dan ceweknya ini putus. Ceweknya ini ketemu dengan orang lain. Sangat menyesakkan. Satu pesan yang cukup menarik perhatian di cerita ini adalah jangan mengundang mantan ke acara pernikahan kita, karena situasinya akan berubah tidak enak. Mantannya ini memang tidak mengundang Dika ke acara pernikahan dia.

Selain itu juga saya menyukai kisah no. 10 yang berjudul Patah Hati Terhebat. Sepintas melihat judul, saya sempat skeptis dan menduga mungkin ceritanya akan berakhir menye-menye dan mengeksploitasi Dika yang sering galau (walaupun sering dibuat kocak). Tapi saya keliru. Bagian ini paling saya sukai karena teramat menyentuh. Pasalnya diperlukan keikhlasan luar biasa untuk merelakan orang yang kita kasihi, yang kita saling bertukar harapan padanya, yang kita saling memupuk masa depan dengannya, tiba-tiba harus pergi dari dunia ini. Tambah menyesakkan apabila orang tersebut pada saat terakhir dalam hidupnya mencoba untuk memberikan sesuatu yang berarti bagi kita. Cerita ini mengisahkan bagaimana susahnya sahabat Dika melupakan orang yang dia sayangi dan cintai karena orang itu telah meninggal. Dan karena patah hati tersebut, dia gak pernah pacaran lagi. Mungkin masih trauma atau mungkin ada sebab lain. Yah, sejak dahulu begitulah cinta, deritanya tiada pernah berakhir.

Monolog Senja No. 14: Jingga Senja dan Deru Hujan

Baiklah aku akui bahwa sehari saja pesan ini tidak ku kirim padamu, rindu itu berubah jadi adiksi. Adiksi pekat yang mengalir dalam saraf ingatanku. Aku menunggu, iya di sini aku menunggumu dalam jingga senja, dalam riak gugur daun, dalam wangi sore yang mengabarkan hening. Kendati coba aku tahan, bayang itu tetap menyeruak jua. Bayang penantian, menanti engkau kembali. Kau tahu, yang dinanti adalah sebuah cinta sederhana, yang membuat awan melaju disapu angin, yang menjadikan ia titik-titik penebus dahaga bumi. Namun ku yakin itu tak mudah, seperti pernah ku ceritakan padamu. Karena dengan itu aku merasa engkau hadir.

Sematkanlah apa yang aku terpesona akan engkau dalam jiwa. Yang namanya angkasa kadang tak selalu biru, awan pekat yang menjadikannya kelabu. Hanya ku yakin, dalam perjalananmu, engkau pasti ingat tentang kita. Pada hari-hari di mana keyakinan seakan jauh, kecemasan yang berselimut. Namun jika kau tanyakan itu padaku, tak pernah sekalipun aku ragu jika telah memilih. Karena seperti hydrogen, elemen alam raya ini tersusun atas itu. Seperti itu jualah aku. Keyakinan itu tersusun pasti, karena engkau.

Jikapun nantinya keraguanlah yang meraja di hati mu, pastikan itu bukan Karena aku. Maksudku bukan karena sosokku. Aku tahu, banyak beda antara kita. Namun tak perlu kita menghabiskan waktu untuk mengurai dan membuktikan bahwa rumusan perasaan ini benar-benar telah kuat. Perasaan kuat yang dinamakan cinta. Walaupun ia bernama, sejatinya ku upayakan untuk tak ku sebut itu di depanmu, tak ku ujar itu di kebersamaan kita. Hanya saja, jika engkau merasa bahwa jingga senja telah membuatmu nyaman, seperti itulah yang kuharapkan.

Dalam benar-benar ini bukan aku tak melihat mendung, hanya saja tak ada yang lebih bisa mengalihkan aku miliki perhatian, tiada lain karena semburat pendar di antara gelap. Secercah harap dalam asa yang tiada berasa. Ku lihat itu di ronamu. Dan aku yakin dalam itu.

Meski tetap aku menunggu khawatirmu terlukis akan aku, senyummu membuka kelim, sorotmu mengalun angan, sejatinya hanya bayang-bayang rindu yang merayap di dinding hati. Aku tak mau berujar banyak, mari kita lihat saja semesta memainkan rinduku ini.

Medio Juni 2014